Friday, 24 October, 2014 18:57

Rezeki Halal Sebagai Sumber Kebahagiaan Keluarga

Posted by admin on Jumat, Nopember 20, 2009, 10:33
This news item was posted in Tak Berkategori category and has 0 Komentar so far .

Kebahagiaan keluarga diukur dari keberhasilan mendidik anak-anak dan istri, disamping ditunjang dengan rezeki halal yang diberikan kepada keluarga

Visi hidup dari seorang muslim atau muslimah sesungguhnya adalah kebahagiaan, kesuksesan dan kemenangan yang hakiki yakni di dunia dan di akhirat. Kebahagiaan ini, meliputi kemenangan yang diraih oleh diri pribadi, keluarga, dan masyarakat. Kemenangan yang diraih di dunia tidak hanya semata-mata kemenangan di dunia, sebab disini kemenangan itu sifatnya hanya semu. Raihan kemenangan di dunia tidak bisa kita lepaskan dengan kemenangan di akhirat. Keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, keduanya hanya berbeda dari status, fungsi dan perannya. Kemenangan dunia sifatnya hanya sementara dan sebagai wasilah atau cara sehingga menjadi sebab untuk mendapatkan tujuan akhirat yang abadi yang merupakan akibat. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra’ 72.

Begitu pula dalam surat An-Nahl, ““Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).

Sukses dalam keluarga
Menjadikan kesuksesan dalam keluarga dunia akhirat, sama halnya dengan meraih tiket ke syurga. Tanda-tanda keluarga yang mendapat kesuksesan diantaranya, suami atau isteri yang shaleh (bertanggung jawab). Anak-anak yang shaleh dan shalehah, cerdas akal-budi dan baik akhlaqnya. Menghormati orang tua. Rizki yang halal juga menjadi pertanda kesuksesan keluarga tersebut. Ditambah dengan lingkungan pergaulan atau tetangga yang baik.

Ketenangan dan kebahagiaan keluarga salah satunya didapatkan dari rezeki yang halal. Sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam surat Al-Baqarah 168, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168).

Anggota keluarga yang mendapat asupan rezeki yang baik, maka seluruh perilakunya akan mengarah pada kebaikan. Rezeki yang halal, sudah pasti dijamin baik dan bermutu (halal dan Thoyyib). Sementara rejeki yang tidak halal akan membuat dampak buruk pada seluruh keluarga.

Diantara dampak buruk ini antara lain, perilaku yang buruk atau akhlak yang tidak baik, doa yang tidak dikabulkan, sampai dengan amalan ibadah yang tidak diterima.
Sebagai orang yang beriman, kita diwajibkan untuk mengkonsumsi makanan dari rezeki yang halal, sebagai bentuk rasa syukur kita kepa da Allah SWT, terlebih lagi kepada keluarga kita. “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172).

Rezeki yang didapat secara tidak halal didapatkan dari segala cara yang tidak sesuai dengan syariat. Misalnya melalui penipuan dan memperdaya orang lain, curang, suap menyuap, mencuri atau gasab, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah: 38).

Riba maupun dari berjudi. “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (90) Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) (91).” (QS. Al-Maidah: 90-91).

Khusus untuk riba Allah telah memberikan peringatan keras kepada hambaNya untuk jangan sekali-kali mendekati, karena janji akan siksa memakan harta riba ini sangatlah pedih sebagaimana digambarkan dalam surat Al-Baqarah, ayat 275. Sudah banyak contoh disekitar yang membuat kita harus lebih berhati-hati, dalam memberikan asupan konsumsi pada keluarga. Kita tentu tidak berharap, generasi yang akan menggantikan kita menjadi pemimpin kelak, mendapat asupan yang tidak halal, sebab nanti akan berdampak pada kehidupan keseluruhan.

Kunci untuk meraih rezeki yang halal adalah dengan memperbanyak istighfar dan taubat. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, surat Nuh, 10-12, “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
Wallahu ‘a’lam bissawab.

You can leave a response , or trackback from your own site .

Tak Ada Jawaban Untuk “Rezeki Halal Sebagai Sumber Kebahagiaan Keluarga”

Leave a Reply